Sebuah Wacana
Ngayogyakarta Hadiningrat, sebutan kejawen dari Jogjakarta. Makna yang sangat dalam akan arti sebuah nama dari sebuah kota, yang mana mencerminkan secara nyata bahwa kekentalan dan khas dari sebuah kerajaan asli Jawa terkandung di dalamnya. Adat dan kebudayaan yang sangat kental, sifat kekerabatan dan kebersamaan yang sangat kuat merupakan penilaian masyarakat luar terhadap kota Jogjakarta. Pikulan yang sangat berat bagi kita sebagai masyarakat penerus (khususnya anak-anak muda asli Jogja) akan sebuah adat dan kewibawaan kota yang harus dipertahankan , diperjuangkan dan selalu dikembangkan untuk sebuah idealis yang dinamis. Sebelum kemerdekaan banyak pejuang kita yang mempertahankan dengan keberanian dan nyawa mereka untuk memperebutkan kota dari musuh (Belanda dan Jepang), untuk saat ini kita sebagai penerus tetap harus berjuang untuk mempertajam image kota Jogjakarta di dunia luar.
Ruang lingkup. Jogjakarta yang dikenal sebagai kota budaya, kota seni, kota pendidikan, kota perjuangan, kota kerajaan, dan sebagainya. Apabila kita mau secara detail mengamati baik dari segi kehidupan masyarakatnya, bangunanya, tekstur jalanya, karya seninya, dan ubo rampe (bahasa jawa) lainya nya. Akan ada kata-kata yang terungkap pada diri kalian… “Wow…Jogja sungguh luar biasa”, hanya dengan ukuran kota yang sangat sempit dan kecil, kita bisa menemukan keunikan dan kedasyatan dari berbagai bentuk apapun itu.
Jogja Wall Nation, sebagai wadah dari kebersamaan dan sebagai tempat komunikasi masyarakat Jogja seutuhnya untuk menciptakan sebuah kesejahteraan . Mengajak semua lini masyarakat baik dari dalam kota, luar kota, luar propinsi bahkan luar Indonesia untuk mendetailkan perjuangan-perjuangan masyarakat Jogjakarta dalam mengisi kemerdekaan. Masyarakat Jogjakarta mempunyai banyak sekali kreatifitas dan banyak sekali cara untuk melakukan sebuah perjuangan dalam mencukupi hidup ataupun untuk menghasilkan sebuah karya. Sebagai contoh pada bulan ini, Desember 2009, dimana Jogjakarta sedang dipenuhi sebuah karya luar biasa dan merupakan hasil kejuangan dari para perupa asli Jogjakarta (lebih dari 100 perupa) yang tergabung dalam konsep Binale X. Tukang rongsokan yang selalu mengais dan mencari barang bekas dipinggir sungai, Tukang becak yang sedang membawa barang bawaan yang berat, Perjuangan sorang tukang siram jalan/taman dan masih banyak lagi bentuk-bentuk perjuangan masyarakat Jogja yang bisa kita ambil dan cermati. Bagaimana kita sebagai seorang yang sedikit banyak mempunyai kemampuan dan kreatifitas untuk bisa menceritakan kejuangan mereka dalam sebuah karya tersendiri yaitu Photography, sehingga kejuangan mereka menjadi reward tersendiri. Dengan ulasan diatas, kami dar Jogja Wall Nation mengadakan sebuah event yang bertitle “Photography Competition” yang bermaksud menumbuhkan sikap kejuangan masyarakat
Photography Competition, tidak ada pemisahan peserta antara fotografer profesional, amatiran, umum, wartawan atau pemisahan lainya. Dalam konsep kompetisi saat ini akan dibuktikan siapa yang mempunyai semangat dan daya kejuangan untuk menciptakan sebuah karya yang bisa mewakili semangat juang dari Masyarakat Jogjakarta dalam menggeluti kehidupan dan mengisi kemerdekaanya.
Harapan besar, dengan adanya lomba karya fotografer ini kami sangat mengharapkan akan munculnya sikap kejuangan bagi masyarakat Jogjakarta untuk tidak “nglokro” dalam hidup melainkan semangat dalam berjuang mengisi kemerdekaan dan kehidupan semakin bertambah kuat. Hanya dengan kemauan, semangat dan keberanian, apa yang akan kita lakukan bisa menjadi sebuah karya dan menjadi rejeki bagi kita demi dan untuk pengembangan kota.
Dukungan penuh akan arti pentingnya sebuah perjuangan dan kebersamaan masyarakat Jogja seutuhnya dalam Photography Competition oleh Pemerintah Kota Yogyakarta, DPRD Kota Yogyakarta, KODIM 0734/Yogyakarta, POLTABES Yogyakarta, Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Dinas Sosial dan instansi pemerintahan lainya yang tidak bisa kita sebut satu persatu.





