Dibalik event: TNI, Panitia dan Pelaksanaan

JWN Dipublikasikan oleh JWN pada 20 November, 2009 pukul 00:55 WIB

Salam,

Pelaksanaan event Jogja Wall Nation telah selesai. Tentu saja ada hal-hal yang bisa digali dalam acara ini. Entah hal-hal yang sifatnya membangun sampai dengan kritik yang pedas yang harus diterima oleh semua penyelenggara. Satu hal yang ingin kami sampaikan disini: terima kasih kepada Anda semua atas masukan, saran bahkan kritis pedas yang disampaikan kepada kami. Kami mencatat dan mendengarnya. Untuk itu, ijinkan kami melalui medium ini untuk menyampaikan beberapa hal yang (semoga) dapat menjawab pertanyaan, asumsi dan juga kritik dari Anda yang mungkin telah muncul atau akan muncul dikemudian hari.

Konsep acara

“Kok penyelenggaranya TNI yang tidak tahu seni!?”, “TNI itu pekerjaannya perang, bukan seni!”, “Seniman dan TNI itu sama-sama perang, tapi perangnya beda!”, “Kok medianya cuma triplek!?”.

Itulah beberapa pertanyaan yang diajukan dan masuk kepada kami panitia penyelenggara. Penyelenggara dan penggagas dalam mempersiapkan acara ini mencoba menggali lebih dalam lagi, membuat perhitungan, perkiraan dan konsep yang ingin diangkat melalui acara ini. Audiensi di kantor Pemerintah Kota dilaksanakan pertama kali tanggal 21 Oktober 2009 di kantor Pemerintah Kota Jogjakarta. Disinilah konsep ini disampaikan.

Pemerintah Kota Jogja menyambut gagasan ini. Satu hal yang ingin dicatat disini, bahwa ini bukan tentang TNI, militer, atau mural semata. Ada sebuah nilai tersendiri yang ingin dimunculkan kembali. Sebuah nilai semangat dan kebersamaan. Itulah kenapa dalam penyelenggaraan acara ini, banyak sekali melibatkan (dan ingin sekali melibatkan) banyak elemen masyarakat. Anggota TNI (Koramil), Brimob, kepolisian, pemerintah kota, komunitas otomotif/bikers, seni, musik dapat bergabung dalam sebuah acara yang lebih mengedepankan sebuah kebersamaan dan kekompakan.

Secara terbuka, memang anggota TNI memang memegang andil yang cukup besar (yang pada akhirnya juga harus mempertanggungjawabkan apa yang menjadi usulan). Dalam agenda ini, TNI memiliki beberapa fungsi kunci:

  • Mempersiapkan hal-hal yang bersifat teknis (dan fisik) misalnya pendataan pendaftaran peserta, pemasangan kerangka pemasangan, penyiapan media gambar, dan lain-lain.
  • Berkoordinasi/mengkoordinasikan dengan anggota masyarakat melalui kantor-kantor Koramil terdekat.

TNI dan Panitia

Jadi, fungsi TNI disini tidak menitikberatkan kepada seni mural itu sendiri. Mereka (anggota TNI) tidak terlibat jauh dalam hal-hal seperti wilayah seni, karya, ekspresi, dan lain sebagainya. Namun, mereka sebagai katalisator dalam menjembatani apa yang ingin menjadi tujuan akhir — yaitu semangat kebersamaan — dengan keseluruhan rangkaian acara. Dalam perencanaan, penyelenggara juga mengadakan koordinasi dengan pihak-pihak lain untuk meminta bantuan, ide, petunjuk tentang hal-hal yang lebih mengacu kepada seni itu sendiri. Kami sebagai penyelenggara bertanya dan menimba ilmu juga dari rekan-rekan di Taman Budaya Yogyakarta. Kami sadar, bahwa ilmu kami jauh dari siap/cukup kalau hanya berbekal dari koordinasi/diskusi singkat tersebut.

Penyelenggaraan

Kok di Malioboro? Mengapa medianya triplek saja, bukan tembok, atau bahan yang lebih kuat dan tahan lama? Itu sempat menjadi pemikiran. Namun, jika medianya tembok, bagaimana menfasilitasi ratusan/ribuan peserta? Kemana itu harus dibawa? Malioboro dipilih dengan beberapa pertimbangan, salah satunya adalah bahwa di Malioboro-lah banyak anggota masyarkat juga berkumpul, memiliki sebuah keterikatan. Tidak hanya bagi masyarakat Jogjakarta sendiri, tapi juga masyarakat luar Jogja, bahkan luar negeri.

Alasan penggunaan triplek salah satunya adalah tentang kepraktisan sekaligus untuk menekan beban biaya. Acara ini pada mulanya adalah berangkat dari sebuah ide: menjalin kebersamaan. Jika menggunakan media (yang bisa bergerak), mungkin bisa digunakan media yang lebih kuat. Namun, bagaimana jika ini berpengaruh terhadap biaya pendaftaran misalnya? Penyelenggara tentu senang jika ada bahan yang digunakan lebih kuat.

Sekadar informasi, penyelenggara menempatkan hal tersebut diatas (biaya) dalam pemikiran utama. Biaya dari peserta salah satunya adalah untuk pembelian/pembuatan hal-hal yang sifatnya teknis seperti triplek, bambu untuk kerangka, dan lain sebagainya. Tentu saja ini tidak bisa disederhanakan menjadi “biaya triplek dan bambu saja”.

Hal-hal lain yang seperti publikasi (flyer, baliho kecil-kecil, sekretariatan, dll) dan acara (di Alun-Alun Utara) dibantu oleh sponsor juga. Penyelenggara menanggung beban untuk biaya seperti sound system dan sebagian acara di Alun-Alun Utara. Jadi, dalam email yang masuk kepada kami ada yang mempertanyakan berapa untungnya panitia/penyelenggara — dan bagaiman panitia mengambil keuntungan secara materi melalui acara ini — dan dikemanakan keuntungan tersebut, kami cukup mudah menjawabnya: kami tidak bicara keuntungan dan tidak dikemana-kemanakan. Kami sangat tidak ingin memberitahukan tentang hal ini, namun karena kami juga mendapatkan masukan informasi terkait dengan hal ini, maka kami rasa perlu untuk menyampaikannya melalui media ini.

Tentu saja, sebagai sebuah agenda yang baru dilangsungkan untuk pertama kalinya, acara yang digelar bisa jadi tidak bisa memuaskan semua pihak. Kami penyelenggara memahami hal tersebut, dan kami akan belajar. Kami juga memutuskan untuk menggunakan media situs ini dengan maksud untuk bisa membuka ruang komunikasi seluas-luasnya, sehingga jika ada ide, usulan, masukan dan kritik… Anda bisa menyampaikan dan kami akan menjawabnya. Melalui media ini pula, kami ingin menggunakannya sebagai medium untuk menyampaikan satu dan lain hal yang semoga bisa menjawab dan memberitahukan secara terbuka tentang acara ini.

Demikian sedikit informasi dari kami. Semoga kerjama yang telah terjalin diantara elemen-elemen yang terkait dengan Jogja Wall Nation dapat terus terjaga. Jika Anda memiliki ide, usulan, saran, kesan atau masukan lainnya, silakan menghubungi kami langsung melalui email di info@jogjawallnation.com, atau gunakan halaman kontak. Email akan masuk kepada kami sebagai pengelola acara dan situs, dan kami akan mencoba memberikan tanggapan. Jika masukan Anda sekiranya perlu untuk disampaikan kepada pihak-pihak yang terkait dengan acara, kami akan mencoba meneruskannya. Terima kasih.

3 komentar untuk artikel ini

  1. dunkie

    Di awal saya mendengar event ini dari beberapa teman di kampus,kami mencibirkan bibir kami.jujur saja kami waktu itu berpikir sangat emosional. TNI,PEMKOT,KEPOLISIAN dan Instansi lain yang terlibat dalam kepanitiaan ini semuanya hanya merupakan penggerak masa dan untuk tujuan tertentu.Ketika di Hari Sabtu pagi saya dan teman-teman melihat ke Alun2 utara untuk mencoba membuktikan koar2 tajam di media tentang event ini.Kami kaget semua peserta bisa on time pukul 10 pagi kumpul dan sabar menunggu TM Panitia dan jumlahnya menambah bikin kaget kami.

    Disitulah seperti ada sesuatu yang mendorong kami untuk berpartisipasi menjadi peserta.Kami hanya anak kost yang gak punya uang banyak tuk bisa mendaftar dalam event ini, tetapi gak tahulah kami sangat termotivasi dan ada sebuah semangat baru muncul.Terus kami bilang sama panitia bahwa kami nulis sebagai pendaftar dahulu, 10 menit kami baru akan membawa uangnya. Akhirnya kami terlibat sebagai peserta. Dan itulah sebuah naluri besar dari kami dan dorongan dari kami membuat terbelalak lagi sewaktu menikmati perjalanan dari TM sampai ke opening ceremonial.

    Ribuan masa bisa tertib mendengarkan arahan panitia, tanpa protes dan gak bisa berkata apa2 lagi.ini bukan ketakutan kami dengan seorang polisi atau TNI, tetapi karena kekaguman kami terhadap panitia yang bisa mengatur peserta yang jumlahnya ribuan (meski ada kesemrawutan itu hal yang wajar bagi kami)semua dijelaskan secara runtut dan tegas,pelaksanaan meski ada tambal sulam peserta kami tetap menikmatinya.Saya pribadi sampai sekarang masih terheran-heran, kok bisa ya sebuah konsep yang sangat rumit dalam persiapanya dan sangat konyol menurut saya, bisa sukses. Kami yakin gak kan ada yang mampu melakukan event ini tanpa kolaburasi yang dasyat dari panitia.

    Kami sangat menikmatinya meski kami gagal juara, kami sangat menghargai hasil ini, ini sejarah saya sangat setuju.Kami yang sangat dinilai idealis dalam seni, dengan merasakan sejarah ini kami jadi semakin berpikir dinamis, ternyata sebuah idealis perlu sebuah keberanian dalam memunculkan, tidak egois dan mau membuka untuk orang lain.terimakasih jogjawallnation,semangat terus, kami setujuuuuu

    November 20, 2009 at 9:51 am

  2. nyoman raka bali

    Om swastyastu…kami peserta dari Bali ikut dalam katagori kelompok..Saat kami membaca web panitia, langsung tergerak ikut walau harus pinjam teman sana sini untuk modal ke jogja dan makan disana..hanya Idealisme seni kekuatan kami. sampai di jogja sore, pendaftaran sudah tutup karena pesertanya ribuan, panitianya lucu..kok tentara2 semua.., kami kaget stengah mati..!!

    Tiang sdh putus asaa, ndak mungkin bisa ikut..takut mau bilang apaa? ternyata tentara itu paham sekali kalau kami dari jauuh dan masuk kelompok yang terlambat..dari solo, semarang, surabaya..cirebon dll..Duh Sang Hyang Widhi..ternyata salah tiang pikir selama ini tentang tentara..bapak tentara yang jadi mentor kami, mangarahkan, membari kami teh plastik, roti sobek makan sama sama kerna tiang tahu pak itu juga ndak ada uang seperti kami..

    Setelah malam pembukaan kami pikir hanya beberapa seniman, rupanya..alun alun jogja hitaam bak semut manusia..ribuaaan seniman kumpul disana dari mana mana & ada bule bule dengan perlengkapan khusus lukisnya..pupus sudah harapan kami menang..tapi, inilah Jambore seniman..inilah karya agung..inilah sejarah kesenian indonesia bahkan mungkin dunia..kami bangga ada diantara semua peserta..Pak tentara menggiring kepompok kami ke ujung malioboro space kami sdh disiapkan dan kami berpacu dengan waktu (cuma 4 jam)..dengan sabar pak itu bilang..”adik-adik memang hanya 4 jam, kalian harus berpreatasi dalam tekanan, dalam keterbatasan cahaya,dalam kehujanan (tempatku gerimis), dalam lapar & haus..karena itulah Spirit Sudirman”..ini luar biasaa ini sejarah ini cerdas..seniman diatur utk berkarya dalam menjiwai pahlawannya..kami jadi ikut menjiwai pak dirman..kami jadi hanyut dengan pengorbanan pak dirman dalam sket muralku..kami serasa trance…

    Usai peluit pak tentara ditiup 05.00 (kami dapat bonus 1 jam)..mereka mngangkat semua mural-mural kami dengan sigap namun akrab..Luaar bisa..dalam kesunyian pagi sudah terpampang rangkaian mural yang sangat eksotik..thats great!!Yang kami salut pd event ini adalah ribuan manusia bergerak bagai gelombang tsunami dari alun-alun ke malioboro dalam heniiiing, tidak ada canda, semua serius mencari mood, begitu sampai blok masing masing..kiri kanan langsung menggelar perlengkapan, beraksi, tanpa ada gesekan, tanpa ada clash..semua bagai bersaudara..Inikah mimpi? gak kami gak mimpi..ini nyata Bro?..Memang jogja benar kata orang..Gudangnya seniman yang ber-nasionalis..

    Semoga event ini dilanjutkan 2010 nanti kami akan hadir dalam jambore seniman ini bersama rekan-rekan Bali yang sdh juga melihat web ini, sampai terheran heran..Pak tentara(maaf pak saya lupa nama pak), bagaimana cara kirim sertifikat peserta ke bali?

    Dan karya kami terpajang di malioboro selama sebulan? saluuut panitia..semua karya ada fotonya & kami bisa menikmatinya di sini dari bali..Salam buat mentorku pak tentara yang sabar mengarahkan kami..Salam buat jogja..kami menanti kegilaan kegilaanmu kembali…Tiang ngiring..Suksma

    November 20, 2009 at 5:44 pm

  3. Wallnation (JWN2009)

    terima kasih sobat muralis Bali…kita akan mengirimkan piagam itu ke Bali..tolong untuk alamat langsung tulis aja melalui email atau web site ini…Lalu ada penjelasan kemarin mendaftar di koramil mana..nama lengkap dan alamat.ok. salam JWN

    November 21, 2009 at 11:28 am

Tuliskan komentar